Fase Perjuangan HMI

Setelah ditumpasnya Gerakan 30 S/PKI, di kalangan Intelektual segala kegiatan diskusi dan bentuk pertukar-pikiran lainnya, mengarah pada bagaimana membangun ekonomi Indonesia. Di sekitar tahun 1966-1969 muncul pelbagai gagasan tentang modernisasi menyeluruh di segala bidang. Karena modernisasi tidak dapat dibiarkan sendiri seraya struktur politik belum baru sama sekali, bahkan dapat dilukiskan sebagai “Struktur Orde Lama minus PKI”. Di kalangan intelektual muda timbul perbedaan pendapat tentang approach modernisasi yang digunakan. Ada yang cenderung menggunakan structural approach sebagaimana tercermin dari pemikiran Rahman Tolleng dan Mingguan Mahasiswa Indonesia Edisi Jawa Barat. Sebaliknya Nono Anwar Makarim cenderung memilih cultural approach. HMI lebih dekat pada pendekatan Nono, hanya saja HMI juga menekankan bahwa substansi modernisasi bukan westernisasi seperti yang diutarakan Nurcholish Madjid ketika berpolemik dengan Rosihan Anwar.

Para ekonom lebih cepat merumuskan kerangka dasar pembangunan ekonomi, bahkan pada 1969 Repelita I mulai dilaksanakan. Pembangunan politik pada akhirnya mengarah pada proses restrukturisasi kelembagaan. Parpol tampaknya terengah-engah mengantisipasi gagasan di bidang ini yang hampir setiap hari meramaikan bursa politik. Mulai dari munculnya ide memformalkan Independent Group, yaitu kelompok yang mandiri dari segala afiliasi politik, sampai dengan masalah penyederhanaan partai. Sementara itu KAMI buabar, berhubung tak dapat mencapai kesepakatan tentang pembentukan National of Student (NUS) pada Februari 1969. Dewan-Dewan Mahasiswa sendiri gagal membentuk NUS di Bogor pada bulan Desember 1970. Gagasan Amir Machmud tentang pembentukan Persatuan Nasional Mahasiswa Indonesia (PNMI) sebelumnya, sekitar akhir tahun 1966, ditolak mahasiswa. Ketika itu Amir Machmud menjabat sebagai Pangdam Jaya.

PEMBAJAKAN

Awal dasawarsa 70-an diwarnai dengan pembajakan organisasi, baik ormas profesi maupun parpol. Adegan pembajakan terjadi pada tubuh Partai Muslimin Indonesia, PSII, World Assembly of Youth di Indonesia. Sementara PWI memiliki pengurus kembar. Kongres PNI sendiri yang berlangsung di Semarang diwarnai dengan penggusuran dramatis terhadap kelompok Hardi. HMI memperlihatkan sikapnya yang jelas menolak pembajakan. Pernyataan politik dikeluarkan mengecam apa yang terjadi pada tubuh Partai Muslimin dan PWI. Tokoh-tokoh HMI juga menyatakan keprihatinannya atas musibah politik yang menimpa Kongres PSII di Majalaya dan PNI di Semarang. Diskusi-diskusi yang diselenggarkan oleh Forum “Diskusi Kita” di Harian KAMI sering diwarnai kecaman tokoh generasi muda atas peristiwa tersebut.

Peristiwa yang nyaris serupa terjadi pada tubuh generasi muda. Seperti diketahui ormas-ormas keagamaan, yang menentang komunisme menjadi anggota World Assembly of Youth (WAY) sejak tahun 1950-an. Hanya saja di jaman Orde Lama forum ini dibekukan sendiri. WAY Indonesia aktif kembali pada jaman Orde Baru. HMI menjadi salah seorang pimpinan presidium WAY Indonesia. Musibah terhadap WAY terjadi pada tahun 1972 ketika kegiatan bakti kemasyarakatannya dilarang di beberapa daerah di Jawa Tengah. Presidium WAY Indonesia “membeku” selamanya. Gagasan restrukturisasi politik muncul dalam wujud yang jelas pada tahun 1973. Pelbagai bentuk wadah “Federasi” dan “Fusi” dilahirkan, mulai dari HKTI, HSNI, FBSI, PPP, PDI, dan KNPI. Tahun 1973/1974 diwarnai dengan kesibukan lobby politik pimpinan-pimpinan organisasi. Hanya organisasi intra kampus penataannya baru selesai 6 tahun setelah itu dengan dimantapkannya BKK di kampus-kampus pada tahun 1980. Kemudian seperti diketahui pada tahun 1989 pemerintah mencanangkan gagasan pembentukan Senat Mahasiswa Perguruan Tinggi (SMPT), walaupun seiring dengan itu dikatakan bahwa Senat Mahasiswa didirikan bukan dengan maksud menyalahkan BKK.


KONTEMPLASI DAN PROYEKSI

Dlam esei ringkas ini saya mencoba membuat catatan kontemplatif atas pengalaman, di mana saya terlibat, sejarah perjalanan HMI pada dasawarsa 70-an. Selaku aktifis HMI saya ikut serta dalam perjuangan mempertahankan eksistensi HMI dari pengganyangan PKI dan antek-anteknya. Saya juga terlibat dalam perjuangan meruntuhkan Orde Lama. Tetapi perjuangan mempertahankan eksistensi HMI pada tahun 70-an mempunyai nuansa yang lain. Karena pada saat itu berjuang tidak hanya bermodalkan semangat dan badan yang sehat seraya di tambah sedikit akal, tetapi memerlukan kelincahan lobby, dan kematangan siasat serta keluwesan pergaulan. Eksklusivisme sama sekali ditinggalkan, karena HMI perlu memperluas pergaulannya. HMI perlu mencoba mengerti apa yang dipikirkan orang lain. Kecerdasan sudah barang tentu amat diperlukan, karena suasana intelektual sudah mewarnai kehidupan para aktivis. Diskusi-diskusi ilmiah diadakan        di mana-mana, termasuk oleh Kelompok Cipayung. Cipayung tidak lagi menghasilkan statement pendek ala perjuangan jaman Demokrasi Terpimpin, tetapi lebih banyak melahirkan pokok-pokok pikiran. Aktivitas HMI pada level Cabang dan Badko juga kesulitan menaikkan kualitas. Hal itu terasa dari beratnya menghadapi forum-forum briefing kepada Cabang/Badko, Sidang Pleno/MPK, atau Kongres. Mereka menuntut penalaran dari sebuah kebijaksanaan PB HMI, dan kami tidak cukup hanya menagih ketaatan atas kebijakan yang dikeluarkan.

Sudah barang tentu suasana yang dihadapi aktivis HMI generasi kini amat berbeda dengan jaman ketika saya masih aktif. Berkat lahirnya UU No. 8 tentang Ormas, dapat dikatakan eksistensi HMI terjamin secara hukum. Tentu saja eksistensi memerlukan bukti de facto dari HMI sendiri bagaimana menyatakan kehadirannya di kalangan mahasiswa khususnya, dengan aktifitas yang nyata. Kualitas mahasiswa sekarang pun berbeda, mereka jauh lebih baik gizinya dari angkatan lama, juga berpeluang mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya berkat era teknologi komunikasi modern.  Mereka juga kuliah dengan sistem pendidikan yang makin baik dan tenaga pengajar yang makin berkualitas.

Ringkas kata, di masa mendatang HMI dituntut untuk meningkatkan pelayanannya kepada mahasiswa secara lebih canggih dan intelektual. Pergaulan dengan sesama Ormas Mahasiswa, Ormas Islam perlu ditingkatkan terus-menerus.  Kemandirian HMI perlu terus dipertahankan, bagaimana aktivitas HMI dewasa ini juga lebih menghayati persoalan-persoalan generasi muda serta masa depannya sendiri. Generasi saya atau generasi yang lebih tua lagi, pernah memperoleh kesempatan berkhidmat dalam HMI. Masa muda tak mungkin terulang dua kali. Kecuali oleh orang yang merasa kehilangan masa mudanya. Sebagai alumni HMI, saya yakin dan percaya bahwa generasi yang lebih muda akan jauh berkemampuan untuk berkhidmat daripada generasi sebelumnya. Setiap tahap sejarah (mestinya) ada peningkatan kualitas. Generasi angkatan saya dan yang lebih tua kini telah memilih lapangan dan profesi masing-masing, tentunya kami menyadari sebagai orang yang pernah menjadi anggota HMI, dan kini berstatus alumni HMI, tidak mungkin menjadi HMI-wan abadi. Kalaupun mungkin ada kerinduan seperti itu, barangkali ada baiknya diingat sebaris sajak Rendra, Adakah kita kanak-kanak yang Abadi?

Yakin Usaha Sampai...


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar