Becermin Dalam Gelap : Carut-Marut Sistem Kelistrikan di Indonesia

HMI Media-Tidak dipungkiri lagi, bahwa penggunaan energi listrik merupakan kebutuhan yang tidak terlepas dalam aktivitas keseharian seluruh umat manusia di atas muka bumi ini. Di era globalisasi saat ini, pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi sangatlah menunjang seluruh aktivitas pekerjaan sehingga dengan mudah dapat terselesaikan. Perbedaan jarak dan waktu seakan tak ada batasnya, sebab teknologi memudahkan aktivitas kita. Lihat saja di Negara-negara maju, seperti negara super power Amerika Serikat, Jepang, Cina dan negara-negara berkembang lainnya, menilai bahwa penggunaan energi listrik  merupakan kebutuhan yang sangat vital dalam menjalankan roda perekonomian, pemerintahan dan juga menjaga stabilitas keamanan. Dengan penggunaan teknologi super canggih negara-negara maju tersebut dapat memproduksi pasokan energi listrik menggunakan tekhnologi mutahir. Lihat saja negara Jepang, dengan kemampuan SDA yang berkualitas mampu menciptakan pembangkit listrik bertenaga nuklir yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Akan tetapi, saat ini  kita patut berduka atas kejadian yang telah menimpa Negara tirai bambu itu akibat terjadinya radiasi nuklir yang cukup tinggi disebabkan  kerusakan pada pembangkit listrik tenaga nuklir yang Negara ini miliki.

Penggunaan energi listrik di Indonesia nampaknya menjadi perhatian yang sangat besar. Peristiwa demi peristiwa mulai bermunculan akibat penggunaan energi listrik ini, mulai dari tarif yang mahal, manajemen kelistrikan yang kurang professional dalam melakukan kebijakan-kebijakan terkait penetapan tarif dasar listrik. Masalah lain yang muncul seperti, terjadinya kebakaran akibat konsleting listrik, pemadaman bergilir yang tidak terorganisir dengan baik, pemasangan perangkat kelistrikan (tower, jalur sutet) masih belum memenuhi standar prosedur keselamatan bagi wilayah yang di laluinya, seperti : pemukiman warga yang di lalui jalur sutet dan yang parahnya lagi masih adanya praktek pencurian arus listrik secara ilegal pada sebagian kelompok masyarakat kita sehingga fasilitas listrik menjadi rusak akibat perbuatan ini.

Tantangan

Operasional dan Kebijakan

Dalam masalah kelistrikan di Indonesia, perlu dipisahkan antara operasional pasar dan kebijakan sosial. Pemerintah harus mengenakan pajak pendapatan umum terpisah untuk mengurangi tarif listrik di wilayah yang masih memerlukan pembangunan sehingga mendorong industri untuk berpindah ke sana.

Contonya saja di wilayah Papua, masih ada wilayah-wilayah yang belum dapat menikmati fasilitas kelistrikan ini diantaranya : meliputi Kabupaten Intan Jaya, Nduga, Dogiai, Lani Jaya, Mamberamo Raya, Maumberano Tengah dan Puncak Jaya. Hal seperti ini harus mendapat perhatian serius tentunya dari pemerintah selaku pihak yang bertanggung jawab dalam mensejahterakan rakyatnya dalam hal pemenuhan sarana dan prasarana.

Untuk itu, pemerintah perlu mendorong iklim investasi agar membantu mendorong pemenuhan sistem kelistrikan Indonesia yang dapat beroperasi secara efisien dan merata, tidak tertutup kemungkinan pembangunan jalur transmisi bawah laut akan dibangun untuk menghubungkan wilayah barat Indonesia hingga ke timur Indonesia sehingga bisa terbentuk basis energi pembangkit listrik berkesinambungan dan bisa diandalkan serta efisien di Indonesia.

Pertumbuhan Beban di Indonesia 
Pertumbuhan beban yang tinggi merupakan permasalahan utama dari sisi ini. Memang sebagai sebuah negara berkembang pertumbuahan beban yang tinggi di satu sisi memberikan sinyal positif jika dilihat dari perspektif keberlangsungan pembangunan. Namun ini menjadi sesuatu yang negatif jika tidak diikuti oleh kemampuan yang cukup untuk menyuplai beban tersebut. PLN sendiri menargetkan akan memenuhi pertumbuhan beban hingga 9-10% untuk mencapai target Indonesia 100% terlistriki di 2020, bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke 75. Realistiskah? Jawabannya kembali pada seberapakah kemampuan PLN untuk menyelesaikan permasalahan di sisi berikutnya yaitu sisi penyediaan pasokan.

Penyediaan Pasokan Daya 
Permasalahan dalam penyediaan pasokan daya ini  terkait dengan sistem ketenagalistrikan yang menyuplai pertumbuhan beban di atas. Berbicara mengenai sistem tenaga listrik tentunya tidak lepas dari pembangkitan (power generation) dan penyaluran (power distribution). Jika kita mencoba menilik kembali permasalahan utamanya, yakni kenaikan harga minyak dunia, dapat kita simpulkan bahwa permasalahan lebih  kepada sistem pembangkitan yang masih sangat tergantung kepada bahan bakar minyak.

Terkait dengan masalah ini banyak kita dengar usulan-usulan tentang penggunaan energi terbarukan. Menanggapi hal ini perlu dipahami bahwa terdapat hubungan yang berbanding terbalik antara bahan bakar dengan investasi pembangkitan. Penggunaan bahan bakar yang murah dan mudah akan membutuhkan cost yang tinggi dalam pembangunan  pembangkit, sebaliknya pembangunan pembangkit dengan cost yang rendah baisanya butuh bahan bakar dengan harga tinggi dan sulit didapatkan. Ilmu pengetahuan pada dasarnya bisa diharapkan mengkompensasi fenomena ini dengan memunculkan teknologi-teknologi yang mampu mengkonversi energi murah dan mudah menjadi listrik dengan cost yang rendah. Namun tidak bisa kita pungkiri bahwa ilmu pengetahuanpun tidak gratis,dan ini menjadi seperti hal yang naif menimbang masih rendahnya kesadaran bangsa ini terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.

Tarif listrik 
Di Indonesia tarif listrik diberlakukan sama untuk seluruh daerah sehingga tarif itu tidak menunjukkan korelasi yang jelas dengan suplai, permintaan, dan biaya operasional untuk memproduksi listrik. Seperti diketahui, biaya produksi lebih tinggi di wilayah-wilayah pedalaman dan jauh, seperti di Papua, dan lebih rendah di wilayah yang dekat dengan jaringan pembangkit listrik utama seperti di Jawa dan Bali.

Tarif yang berlaku sama itu sebenarnya hanya memindahkan kelebihan uang yang dibayarkan untuk listrik di Jawa-Bali kepada masyarakat di Papua yang membayar kurang dari biaya produksi di sana. Hal yang sama berlaku pada jaringan di Jawa-Bali sendiri, di mana daya listrik mengalir dari timur yang berlebihan suplai, ke barat (Jakarta) yang tidak mempunyai cukup suplai untuk memenuhi permintaan.

Seorang manajer yang baik adalah yang mengatakan, ”Biarkan saya memecahkan masalah dengan sumber daya yang saya punya”, bukan malah berkata, ”Berikan saya sumber daya untuk memecahkan masalah”. Dengan demikian, pemecahan masalah yang paling mendasar adalah bukan dengan membangun jalur transmisi lain yang hanya di fokuskan di area Jawa saja, akan tetapi cobalah lihat prospek kebutuhan masyarakat di wilayah-wilayah terpencil yang masih membutuhkan pasokan kelistrikan sehingga kita tidak hanya berkutat pada persoalan yang tidak realistis dalam aspek pemenuhan energi kelistrikan.

Solusi
Bagaimanapun setiap permasalahan tentu ada solusinya. Kembali kepada kita apakah mau atau tidak untuk melakukannya. Terkait dengan pemaparan di atas beberapa solusi mungkin bisa kita upayakan dalam usaha menghadapi permasalahan ketenagalistrikan ini. Secara garis besar saya membaginya menjadi solusi jangka pendek ,jangka menengah, dan jangka panjang.

Solusi Jangka Pendek 
HEMAT LISTRIK, HEMAT LISTRIK, HEMAT LISTRIK. Inilah yang selalu digembar-gemborkan oleh PLN akhir-akhir ini. Tidak kita pungkiri bahwa memang inilah solusi jangka pendek yang paling tepat untuk kita ambil. Karena membangun pembangkit bukanlah pekerjaan sederhana,perlusan jaringan bukanlah membalik telapak tangan, tetapi kesadaran masing-masing pribadi untuk mengefisienkan pemakaian listrik dimulai dari rumah masing-masing bukankah itu suatu hal yang mudah dilaksanakan namun besar pengaruhnya?

Solusi Jangka Menengah 
Ini lebih terkait pada pembangunan sistem ketenagalistrikan itu sendiri. Ini memang pekerjaan PLN, tapi kita semua harus membantu mereka. Pemerintah hendaknya memberikan kebijakan-kebijakan yang lebih meringankan PLN, seperti : pengaturan harga TDL yang lebih adil dan realistis serta subsidi yang mencukupi bagi PLN. Kitapun dari rakyat seyogyanya menerima dengan lapang dada apabila pemerintah memang harus menaikkan harga listrik. Coba kita bayangkan betapa murahnya harga listrik sementara kita bisa melakukan berbagai hal dengannya. Mengapa untuk membeli pulsa hp yang harganya jauh lebih mahal kita mampu?


Solusi Jangka Panjang 
Kedepannya kita perlu mengembangkan sistem ketenagalistrikan kita agar tidak melulu terbentur pada permasalahan yang sama. Maka ilmu pengetahuan adalah solusi jangka panjangnya. Sudah saatnya kita mengubah paradigma berpikir jangka pendek yang tidak mau sadar akan pentingnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Inipun sekali lagi merupakan tanggung jawab kita bersama. Para akademisi harus lebih bersemangat dalam berkarya dan pemerintah maupun pihak-pihak terkait lainnya hendaknya memberikan iklim yang positif bagi mereka sehingga bisa berkarya untuk kemajuan bangsa.

Salah satu isu yang sedang hangat dibicarakan saat ini adalah isu mengenai ketenagalistrikan di Indonesia. Hal ini berawal dari pemadaman yang sering dilakukan akhir-akhir ini oleh PLN, bahkan di wilayah-wilayah strategis seperti ibu kota dan pusat-pusat industri sebagai kompensasi dari kenaikan harga minyak dunia yang notabene merupakan penyuplai bahan bakar bagi sebagian besar pembangkit di Indonesia. Sebagai seorang akademisi yang tidak mempunyai spesifikasi mengenai ilmu kelistrikan, saya merasa terarik untuk mencoba memberikan sedikit pandangan tentang masalah ini, tentunya dengan berbekal segala keterbatasan dalam ilmu dan wawasan.

Inti dari permasalahan ketenagalistrikan kita adalah ketidak seimbangan antara pertumbuhan beban dengan pasokan daya yang mampu diberikan. Jadi di sini ada dua sisi permasalahan, yaitu permasalahan pertumbuhan beban dan permasalahan dalam hal penyediaan pasokan. Maka solusinya adalah control pemakaian beban kelistrikan dan pasokan bahan bakar untuk pembangkit tenaga listrik harus dilakukan secara professional dan proposional. (MT/HMI).

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar