Hikmah Liberalisme - Berikir Yang Jernih Dan Motivasi Umat Islam

Salah satu tugas intelektual adalah meracik dan menebarkan madu pemikiran, bukan candu pemikiran , Jaman sekarang intelektualisme bukan lagi terkait professionalisme , karena siapa saja bisa menggunakan pola pemikiran intelektual, semua dari kita adalah arsitek pikiran kita sendiri.
Berfikir jernih cecara intelektual seyogyanya bisa memberi garis pembatas antara Liberalisme dan Liberasi berfikir
Filsuf Soren Kierkegaard dalam the journey from aesthetic stage into spiritual stage atau : "kebebasan” itu dapat pula menstimulasi pemekaran “ruang spiritual” dalam diri setiap manusia"
"argumen Allah terhadap hamba-Nya adalah Nabi”, maka “argumen antara hamba dengan Allah adalah akal” (Imam Ja’far As-Shadiq AS).
Agama adalah akal” (ad-dînu al-‘aql). “Jadilah seorang cendekiawan, atau penuntut ilmu, atau pendengar ilmu yang baik, atau pencipta ilmu, dan jangan menjadi yang kelima (orang bodoh) karena jika demikian engkau akan celaka.” (Hadits Muhammad SAW).

Liberalisasi
Menurut Cak Nur, Liberalisasi sebagai sebuah upaya untuk melepaskan diri dari nilai-nilai tradisional dan mencari nilai-nilai yang berorientasi ke masa depan. Kalau liberasi tidak dilakukan, maka berakibat yang cukup parah, yakni Islam menjadi senilai dengan tradisi, membela Islam menjadi sama dengan membela tradisi, dan menjadi islamis sederajat dengan menjadi tradisionalis. Karena membela Islam menjadi sama dengan membela tradisi, maka timbul kesan bahwa kekuatan Islam adalah kekuatan tradisi yang bersifat reaksioner, yang tidak sanggup mengadakan respon yang wajar terhadap perkembangan pemikiran yang ada di dunia dewasa ini.

Liberasi Berfikir
Tujuan dari liberasi berfikir dalam konteks ini adalah membuka peluang adanya intellectual freedom kebebasan berfikir (intellectual freedom) dan idea of progress.
 
Kebebasan Berfikir 
Kebebasan berfikir berarti kemerdekaan untuk menyatakan segala bentuk pikiran dan ide, betapa pun aneh kedengarannya di telinga, karena tidak jarang dari pikiran-pikiran dan ide-ide yang umumnya semula dikira salah dan palsu ternyata kemudian benar.   

Idea of Progress
Idea of progress adalah ide yang bertitik tolak dari konsepsi atau doktrin bahwa manusia pada dasarnya adalah baik, suci dan cinta kepada kebenaran atau kemajuan, kepercayaan akan masa depan manusia dalam perjalanan sejarahnya. Konsistensi idea of progress ini ialah sikap mental yang terbuka berupa kesediaan menerima dan mengambil nilai-nilai (duniawi) dari mana saja asalkan mengandung kebenaran.
Kembali kepada logika sederhana
Logika sederhana pun akan mengatakan, rumah harus dibangun mulai dari dasarnya (pondasinya). Tetapi, pemilihan jenis pondasinya , apakah strip foundation (fondasi alur), raft foundation (fondasi rakit), pad foundation (fondasi pelat), pile foundation (fondasi pancang), atau fondasi cakar ayam , harus disesuaikan dengan jenis tanahnya dan kondisi-kondisi lainnya (alam dan lingkungannya).
Jika sistem Islam diibaratkan sebagai suatu bangunan, maka fondasinya adalah tawhid (aqidah). Dalam hubungan ini, hal terpenting adalah mengenali Allah SWT (ma’rifatullah). Dikatakan, “Awal dari agama adalah mengenal Allah” (awwalu dinu ma’rifatuhu). Dengan kata lain, kita tak pantas berbicara tentang akhlak dan aspek-aspek lainnya jika tak mengenal Allah.
“Berakhlaklah kamu sebagaimana akhlak Allah” (takhallaku bi akhlakillah)
Maka, yang pertama digarap dalam da’wah Rasulullah Muhammad SAW dan Imam Ali KW adalah peletakan prinsip-prinsip aqidah (tawhid) atau pengenalan Allah SWT. “Aku tidak pernah menyembah Tuhan yang tidak kukenal,” demikian kata Imam Ali.
Yang mencerahkan dan yang melakukan propaganda
Maka berdasarkan premis-premis diatas saya menyimpulkan bahwa jika ada oknum-oknum yang mendiskreditkan nilai-nilai liberalisme dan liberasi berfikir hanya dengan label-label , jubah, jenggot, jilbab, ke-arab-araban, maka itu tak lebih dari propaganda dengan suatu kepentingan (candu berfikir) , bukan suatu pencerahan demi kemaslahatan umat (madu berfikir). Dan mestinya umat lebih jeli melihat esensi Iman, Budaya, dan Rasionalitas, sehingga tidak mudah menjadi korban propaganda.
Dalam ilmu propaganda, metoda pencampuradukan realitas bisa dikategorikan sebagai strategi penjebakan pemikiran (thought trapping strategy). Salah satu adagium dalam teknik propaganda tersebut: "Confuse them, and then influence" (Kacaukan mereka, lalu kuasai).
Bagi yang kurang kritis, ide-ide liberalisme bisa dinilai mengacaukan. Padahal bisa saja, bila diresponi secara cerdas akan "memberdayakan” pemikiran ummat, yang terus terang telah lama membeku. Meski, sulit dipungkiri bahwa dalam situasi kacau sekecil apapun, ada saja pihak lain yang berusaha mengambil manfaat.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar