Pengaruh Media Massa Terhadap Dimensi Kehidupan Berdemokrasi di Papua

Oleh
Latifah Anum Siregar ( Direktur AIDP)



Mengenal Diri
Di manakah peranan media massa dalam kehidupan berdemokrasi di papua: proses atau hasil. Media: alat yang berfungsi sebagai transformator, maka peranannya lebih banyak pada proses, bukan pada hasil. Sehingga yang tepat adalah peranan media ikut ’membantu’ menciptakan kehidupan yang demokratis di papua. 

Apakah sebagai media, media massa merupakan bagian yang  signifikan dalam membangun dan mendukung kehidupan yang ber-demokrasi di papua? Apakah komitmen media tersebut diterjemah-kan secara sungguh-sungguh dalam berbagai kebijakan? Seberapa sering dan berapa banyak orang yang membutuhkan pemberitaan yang berpeluang menciptakan demokrasi di papua? Di mana saja letak kategori orang tersebut: pembuat berita atau konsumen berita murni (untuk kepentingan strategi advokasi, kebijakan internal, dan lain-lain)?

Realitas  
1. Pemberitaan :
    [a].        Jenis pemberitaan: terbuka vs  issu atau lembaga tertentu.
    [b].       Prosentase pemberitaan: seimbang, fokus tertentu atau tidak beraturan (kasuistis). 
    [c].        Peluang keseragaman vs perbedaan.

2. Kelembagaan: 
    Aturan Management Vs Kepentingan pemilik modal. 
3. Pihak management dan jurnalis :
    [a].    Kebijakan dan perilaku  level management.
    [b].    Relasi dan perilaku jurnalis.

Akibatnya 
[a].       Berita bersifat kasuistik, visi dan misi menjadi bergeser.
[b].      Standarisasi pemberitaan tidak terpenuhi: minimal & maksimal.
[c].      Management menjadi longgar.
[d].    Pemberitaan berpeluang memunculkan kekerasan, bukan  demokrasi.

Peringatan 
[a].    Penting sekali menjaga  ’netralitas’  dan komitmen. 
[b].    Merubah atau mencari perspektif pemberitaan yang berbeda.
[c].   Memperjelas kepentingan para pihak yang terlibat dalam kelem-bagaan: pemilik modal,  management dan staff/jurnalis. 




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Poskan Komentar